KISAH PERJALANAN KELILING DUNIA SELAMA DI KAPAL PESIAR




Bagian ini memuat kisah-kisah perjalanan ke luar negeri selama bekerja di kapal pesiar. Tentu banyak pengalaman unik dan menarik buat dibagi dengan anda semua.

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Mar 5, 2007
Puerto Vallarta, Mexico

Kota pantai di tepi barat Mexico itu sungguh indah. Pohon nyiur berderet di tepian pantainya, menyatu dengan tata kota yang campuran Spanyol dan Mexico. Angin laut meniup perlahan mengajak pepohonan untuk menari di sepanjang Banderas bay.

 

Menyebut tanjung Banderas, pikiran kita langsung tertuju pada nama bintang film terkenal yang menjadi lawan main Madonna dalam film "Evita," Antonio Banderas. Lelaki ganteng ini memang menjadi prototype lelaki negara Amerika Latin.  Demikian halnya dengan kaum hawanya. Rata-rata penampilan mereka menarik dan enak dipandang, sebut misalnya beberapa penyanyi terkenal macam Jenifer Lopez dan Gloria Estefan.

 

Saya sempatkan menjelajah lekuk indah kotanya hingga ke pelosok desa. Puerto Vallarta memang eksotik. Meskipun Puerto Vallarta masih banyak mempertahankan bangunan kuno bersejarah, itu tidak berarti bahwa berbagai fasilitas moderen tidak tersedia di sini. Ada tersedia mulai dari hotel berbintang, golf course, tempat MICE (meeting, incentive, conference and exhibition), toko cinderamata, hingga restoran internasional, semua tersedia di sini. Penduduknya ramah dan hangat terbuka menyambut setiap pendatang.

 

Setelah puas menyusuri lekuk indah kotanya, saya sempatkan mampir ke sebuah warung "Lonchearia"  untuk mengusir dahaga dan penat di kaki. Warungnya kecil, tapi cukup bersih. Kebetulan waktu itu lagi sepi pengunjung.

 

Adalah sesuatu yang menyejukkan di siang yang panas itu ketika saya sadari bahwa pemilik warung itu ternyata adalah seorang gadis yang cukup cantik. Sebagai basa-basi pembuka obrolan, saya sapa dia dengan greeting bahasa Inggris, "excuse me, can I have something to drink?"  Tapi tak terdengar jawaban yang familiar di telinga. Ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris. Dia menjawab sebisanya dengan bahasa Mexico saya kira. Yang jelas, waktu itu saya lagi butuh minuman segar. Dengan "bahasa Tarzan,"  tunjuk ini tunjuk itu, akhirnya saya dapat juga minuman segar papaya milkshake dan burger ala Mexico.

 

Dari gerak-geraknya, saya sempat perhatikan bahwa sebenarnya dia adalah seorang gadis yang  menarik. Tapi sayang, dia tidak pandai berbahasa Inggris. Saya ingin sekali bisa ngobrol berdua, menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat di sini. Akhirnya, hanya dengan medium kertas dan pena kamipun mulai berkomunikasi.  Ketika komunikasi itu buntu, kami sama-sama tertawa. Mentertawakan kebodohan kami masing-masing. Kami seperti makhluk bisu yang sangat berhasrat untuk dapat mengerti dan dimengerti.

 

Lama-kelamaan akhirnya toh saya bisa tahu bahwa dia bernama Magdalena, umur 16 tahun, sudah tidak sekolah lagi, dan asli dari Guadalajara, minimal setiap minggu dia pulang ke kampungnya, menemui sang mama, sambil pergi ke gereja di hari Domingo.

 

Saya sungguh pengin sekali duduk lama-lama di kedainya, sambil merangkai cerita yang tak seluruhnya kami pahami. Namun sungguh sayang, sekali lagi dia tidak pandai berbahasa Inggris dan kedainya tutup jam dua. Angin laut masih semilir menerpa wajah yang seakan sulit berpaling dan sulit untuk diajak mengatakan selamat tinggal. Namun dengan berat hati, saya pun hanya bisa berkata gracias, adios Magdalena!


Posted at 01:18 am by mashar67
Make a comment  

Jul 26, 2004
John Hopkins Bay, Alaska


Pagi ini lewat PA (public anouncement) disiarkan bahwa kapal telah memasuki gunung-gunung es. Pada pukul 10.00 AM, kapal berhenti sejenak di John Hopkin Bay.

 

Lembah ini terkenal dengan gunung es abadinya. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar disertai pemandangan spektakuler yakni runtuhnya dinding gunung es yang melucur di laut yang juga ditaburi bongkahan balok es. Gunung es itu  tampak angker.

Memang ada satu kepercayaan  yang menyebutkan bahwa ketika Tuhan mengusir Iblis dari surga karena tidak mau bersujud kepada Adam, maka Iblis memilih tempat persembunyiannya di kutub utara ini dalam rangka melancarkan misi menggoda umat manusia menuju jalan yang sesat.

Tapi, berdiri di tengah-tengah pemandangan maha dahsyat itu, aku justru merasakan betapa dahsyatnya ciptaan Tuhan. Lihatlah air laut yang hampir membeku itu, gunung-gunung es yang menjulang tinggi, kabut tebal dikejauhan, dan suara gelegar  runtuhnya dinding gunung es itu. 

Tangan dan bibirku mulai agak kaku tapi aku mencoba tetap bertahan di luar kapal, menatap sejenak belantara gunung salju Alaska sebelum kapal benar-benar meninggalkannya...

<< kembali ke kapal pesiar


Posted at 11:44 pm by mashar67
Comment (1)