Kota pantai di tepi barat Mexico itu sungguh indah. Pohon nyiur berderet di tepian pantainya, menyatu dengan tata kota yang campuran Spanyol dan Mexico. Angin laut meniup perlahan mengajak pepohonan untuk menari di sepanjang Banderas bay.

Menyebut tanjung Banderas, pikiran kita langsung tertuju pada nama bintang film terkenal yang menjadi lawan main Madonna dalam film "Evita," Antonio Banderas. Lelaki ganteng ini memang menjadi prototype lelaki negara Amerika Latin. Demikian halnya dengan kaum hawanya. Rata-rata penampilan mereka menarik dan enak dipandang, sebut misalnya beberapa penyanyi terkenal macam Jenifer Lopez dan Gloria Estefan.
Saya sempatkan menjelajah lekuk indah kotanya hingga ke pelosok desa. Puerto Vallarta memang eksotik. Meskipun Puerto Vallarta masih banyak mempertahankan bangunan kuno bersejarah, itu tidak berarti bahwa berbagai fasilitas moderen tidak tersedia di sini. Ada tersedia mulai dari hotel berbintang, golf course, tempat MICE (meeting, incentive, conference and exhibition), toko cinderamata, hingga restoran internasional, semua tersedia di sini. Penduduknya ramah dan hangat terbuka menyambut setiap pendatang.
Setelah puas menyusuri lekuk indah kotanya, saya sempatkan mampir ke sebuah warung "Lonchearia" untuk mengusir dahaga dan penat di kaki. Warungnya kecil, tapi cukup bersih. Kebetulan waktu itu lagi sepi pengunjung.
Adalah sesuatu yang menyejukkan di siang yang panas itu ketika saya sadari bahwa pemilik warung itu ternyata adalah seorang gadis yang cukup cantik. Sebagai basa-basi pembuka obrolan, saya sapa dia dengan greeting bahasa Inggris, "excuse me, can I have something to drink?" Tapi tak terdengar jawaban yang familiar di telinga. Ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris. Dia menjawab sebisanya dengan bahasa Mexico saya kira. Yang jelas, waktu itu saya lagi butuh minuman segar. Dengan "bahasa Tarzan," tunjuk ini tunjuk itu, akhirnya saya dapat juga minuman segar papaya milkshake dan burger ala Mexico.
Dari gerak-geraknya, saya sempat perhatikan bahwa sebenarnya dia adalah seorang gadis yang menarik. Tapi sayang, dia tidak pandai berbahasa Inggris. Saya ingin sekali bisa ngobrol berdua, menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat di sini. Akhirnya, hanya dengan medium kertas dan pena kamipun mulai berkomunikasi. Ketika komunikasi itu buntu, kami sama-sama tertawa. Mentertawakan kebodohan kami masing-masing. Kami seperti makhluk bisu yang sangat berhasrat untuk dapat mengerti dan dimengerti.
Lama-kelamaan akhirnya toh saya bisa tahu bahwa dia bernama Magdalena, umur 16 tahun, sudah tidak sekolah lagi, dan asli dari Guadalajara, minimal setiap minggu dia pulang ke kampungnya, menemui sang mama, sambil pergi ke gereja di hari Domingo.
Saya sungguh pengin sekali duduk lama-lama di kedainya, sambil merangkai cerita yang tak seluruhnya kami pahami. Namun sungguh sayang, sekali lagi dia tidak pandai berbahasa Inggris dan kedainya tutup jam dua. Angin laut masih semilir menerpa wajah yang seakan sulit berpaling dan sulit untuk diajak mengatakan selamat tinggal. Namun dengan berat hati, saya pun hanya bisa berkata gracias, adios Magdalena!
Posted at 01:18 am by mashar67
Permalink